Tafsir Rahnama, Surat Al-Ma’un Ayat 5
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)
Al-Ladhīna Hum `An Şalātihim Sāhūna
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.
Ayat kelima dari surat al-Ma'un ini diturunkan di Madinah, sehingga tergolong ayat-ayat Madani.
1. Tidak memperhatikan salat dan tidak konsentrasi saat melakukannya akan mengakibatkan manusia mendapat laknat dan azab ilahi
Fawaylun Lilmuşallīna. Al-Ladhīna Hum `An Şalātihim Sāhūna
Kata Sahwah yang merupakan akar kata Sahun berarti lalai (Misbah). Melalaikan salat seperti meninggalkannya secara keseluruhan atau terkadang ditinggalkan atau menunda dalam melakukannya. Sekalipun seseorang yang lalai dimaafkan Allah, tapi dalam kondisi ketika ketidakpeduliannya yang menyebabkannya lalai, maka kelalaian ini patut dicela. Sementara disandarkannya kata ganti orang ketiga plural Hum kepada Shalah (salat) menunjukkan ayat ini berbicara kepada orang yang salat, tapi melakukannya tanpa perhatian dan konsentrasi.
2. Pentingnya memperhatikan masalah salat dan kandungannya.
Fawaylun Lilmuşallīna. Al-Ladhīna Hum `An Şalātihim Sāhūna
3. Tidak percaya akan siksa dan pahala ilahi menjadi sebab manusia meringankan masalah salat.
‘Ara'ayta Al-Ladhī Yukadhdhibu Bid-Dīni... Al-Ladhīna Hum `An Şalātihim Sāhūna
4. Orang yang melakukan salat dan tidak konsentrasi dengan salatnya lebih tercela dari orang yang menghardik anak yatim dan mereka yang melupakan orang miskin.
Fawaylun Lilmuşallīna. Al-Ladhīna Hum `An Şalātihim Sāhūna
Ayat ini seperti ayat-ayat lain dalam surat al-Ma'un menunjukkan sifat orang-orang yang mendustakan balasan ilahi. Penggunaan huruf Fa dalam sifat ketiga dan selanjutnya dan perubahan konteks pembicaraan menunjukkan urutan dan semakin besar tercelanya perbuatan itu.
5. Mengingkari hari kebangkitan berdampak negatif dalam hubungan manusia dengan alam dan Tuhan yang berujung pada ketidakpeduliannya terhadap mereka.
Al-Ladhī Yukadhdhibu... Yadu``u Al-Yatīma... Wa Lā Yaĥuđđu... Al-Ladhīna Hum `An Şalātihim Sāhūna
6. Memperhatikan masalah salat akan membuat manusia memperhatikan anak yatim dan mengurusi miskin.
Al-Ladhī Yukadhdhibu... Yadu``u Al-Yatīma... Wa Lā Yaĥuđđu... Al-Ladhīna Hum `An Şalātihim Sāhūna
Huruf Fa dalam Fawailun Lil Mushallin menunjukkan bahwa laknat dan celaan kepada orang-orang yang melakukan salat merupakan cabang dari dua celaan sebelumnya, menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Yakni, dikarenakan kedua perbuatan itu adalah tercela, maka celakalah bagi orang-orang yang salat! Sebuah perumpamaan bahwa bila mereka benar-benar orang yang melakukan salat secara hakiki sudah barang tentu mereka tidak akan melakukan perbuatan ini.
7. Dari Abu Usamah Zaid as-Syahham berkata, "Saya bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Shadiq) as tentang firman Allah ‘Al-Ladzina Hum ‘An Shalatihim Sahun', dan beliau menjawab, ‘Maksud dari ayat itu adalah meninggalkan salat dan meremehkannya. http://ajian-pelet.blogspot.com















